Jumat, 11 Maret 2011

Tsunami Jepang, Warga Sanana Menginap 7 Jam di RSU dan Kantor DPRD


SANANA, PM—Akibat informasi dari Pacific Tsunami Warning Center yang bermarkas di Hawaii memprediksi tsunami akibat gempa 8,9 SR di Jepang akan tiba di Maluku Utara, pukul 17.58 Waktu Indonesia Barat atau pukul 20.35 Waktu Indonesia Timur.  Berita ini membuat warga Kepsul itu panik.
Kepanikan terjadi di berbagai sudut kota di Kota Sanan, Pulau Taliabu khususnya pesisir Barat, Utara dan Selatan, begitu juga Sulabesi dan Mangoli tidak terlepas dari kepanikan yang terjadi dari sore hingga malam hari. Warga berlarian dan menutup dagangannya lebih awal. Mereka pulang menyelamatkan diri.
Sekitar 7 jam warga Sanana menginap di dua tempat yang berdataran tinggi di Kota Sanana, diantaranya Rumah Sakit Umum Kota Sanana dan Kantor DPRD Kepsul untuk menghindari tsunami. Tampak juga satu unit mobil polisi membantu proses evakuasi.
Sedangkan, Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan menggunakan mobil patrolinya memberikan himbauan untuk tidak terlalu panik dalam mengamankan diri.
Pantauan Posko Malut, hampir semua toko-toko sepanjang jalan di pusat pertokoan nampak para pemilik keluar rumah. Apalagi, pusat pertokoan ini berada di pinggiran pantai, namun, mereka belum meninggalkan rumah, kendati juga terlihat beberapa pemilik toko juga ikut mengungsi sambil membawa sejumlah benda berharga. Sedangkan, dua toko yang biasa membuka pada malam hari yakni Toko Sederhana, Barokah dan Ocehan nampak tertutup.
Tsunami Jepang juga membuat sejumlah pejabat ikut mengungsi diantaranya ketua Komisi C Hi Syamsuddin Ladjuba, memilih untuk mengungsi di Kantor DPRD, Kadis Kehutanan di RSU dan sejumlah pejabat lainnya. Bahkan, kantor Sosial Kepsul yang berada di dataran tinggi pagarnya nyaris dibongkar, karena terkunci. Karena, kondisi di RSU sudah tidak memungkinkan, dimana sepanjang lapak dan lorong serta halaman sudah dipenuhi warga yang mengungsi dan sejumlah kendaraan.
Hi Syamsuddin Ladjuba, mengaku, mengungsi ke DPRD ini karena desakan anak-anak, setelah mendengar informasi di televisi mengenai dampak dari gempa di Jepang yang akan menyebabkan tsunami di beberapa daerah termasuk Maluku Utara."Anak-anak desak untuk mengungsi setelah lihat televisi ada tsunami, " katanya.
Meski banyak warga yang mengungsi, namun jalan tidak macet. Hanya saja, lalulintas menjadi ramai. Namun di tengah kepanikan itu, ada sejumlah warga yang tampak tenang. Setelah pukul 23.00 WIT, mobil patroli milik Sat Pol PP langsung memberikan informasi mengenai keadaan yang telah stabil, hingga itu warga di minta untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, ada sebagian yang terpaksa menginap sampai pagi.
Sementara itu, di Taliabu khususnya Taliabu Barat, Kapolsek Iptu Zainal dan Camat Talbar Ma’aruf SE, langsung menghimbau warga untuk mengungsi ke dataran tinggi yang berada di belakang kantor Polsek dan Gunung Merah.”Warga juga panik tapi tidak menimbulkan korban dan telah kembali pada puku 23.00 WIT,”katanya. (din)

Tidak ada komentar: